Kamis, 26 Februari 2015

Isim Jamid dan Isim Musytaq


 Isim Jamid dan Isim Musytaq
  
OLEH :
Ahmad Risal SM S.Pd.I
ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id


BAB III
PENUTUP

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي رفع الدرجات لمن انخفض لجلاله * وفتح البركات لمن انتصب لشكر افضاله * وأسكن الجنات لمن عرفه حق معرفته * والصلاة والسلام على من جزم بأنه أفضل الخلق كله * وعلى آله وأصحابه الذين بنوا أحوالهم على اتباع سنته * ومن تبعهم بإحسان الى يوم يرجعون فيه *

Segala puji hanya milik Allah yang telah melimpahkan segala karunianya yang tidak terhingga, khususnya ni’mat Iman dan Islam, yang dengan keduanya diperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sholawat dan Salam semoga selalu tercurah atas Baginda Nabi Muhammad SAW, dan atas keluarga dan sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka itu hingga akhir zaman.
Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT makalah ini telah dapat kami selesaikan, dengan tema yang telah ditentukan. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Insan Nur Rahman, Lc. sebagai Dosen Pembimbing mata kuliah Bahasa Arab, atas bimbingannya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu

Terima kasih pula kami ucapkan kepada rekan-rekan khususnya dari kelompok 9, atas segala bantuannya.

Akhirnya, kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, dan penuh dengan kekurangan, mudah-mudahan bisa lebih disempurnakan lagi di masa-masa mendatang.
Akhirnya semoga pekerjaan kita ini diberi pahala oleh Allah SWT. Amiin.

Ciro-ciro'e , l8 Mei  2014



Penulis
Ahmad Risal SM



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran, sumber utama kehidupan kita; Bahasa Nabi Muhammad, sumber teladan kita; serta Bahasa Islam, agama kita. Bahasa Arab merupakan pintu segala ilmu keislaman, tidak akan bisa seseorang menyelam ke dalam samudera ilmu keislaman tanpa melewati pintunya, yaitu ilmu tata Bahasa Arab. Oleh karena itu, hampir tidak mungkin, bisa sempurna keagamaan kita tanpa memahami Bahasa Arab. Bahasa yang kita pakai ketika beribadah kepadaNya, ketika bermunajat dihadapanNya, ketika khusyu’ ruku’ sujud keharibaanNya.

Sangat disayangkan sekali, ketika seorang muslim tidak memahami bahasa yang sangat penting di dalam kehidupannya, karena bagaimana pun bahasa arab adalah bahasa yang pasti ia pergunakan mulai ia lahir sampai akhir umurnya.

Diantara cabang Bahasa Arab yang utama adalah ilmu Nahwu dan Sharaf, tanpa memahami kedua ilmu ini, mustahil sesorang dapat menguasai Bahasa Arab, karena diibaratkan bahwasanya kedua ilmu ini laksana ibu dan bapak, yang tanpanya tidak akan lahir pemahaman bahasa Arab.

Di dalam pembahasan ilmu Sharaf ada yang dinamakan Isim Jamid dan Isim Musytaq, kedua jenis isim inilah yang akan kami bahas di dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah

1.      Jelaskan pengertian Isim Jamid dan pembagian-pembagiannya?
2.      Jelaskan pengertian Isim Musytaq dan pembagian-pembagiannya?

C.    Tujuan Pembahasan

1.      Mengetahui pengertian Isim Jamid dan pembagian-pembagiannya
2.      Mengetahui pengertian Isim Musytaq dan pembagian-pembagiannya



  
BAB II
PEMBAHASAN

الاسم بالنظر الى تركيبه

( Pembagian Isim dilihat dari segi bentuk kalimatnya )

A.    Isim Jamid ( اسم الجامد )

1.      Pengertian Isim Jamid

الاسم الجامد هو مالم يؤخذ من غيره
      Isim Jamid yaitu kalimat Isim, yang bentuk kalimatnya tidak diambil dari kalimat yang lain. Contoh :
رجل  (seorang laki-laki) kalimat tersebut bentuknya tidak diambil dari kalimat lain, maka ia termasuk Isim Jamid.
 علم (ilmu, pengetahuan) kalimat tersebut bentuknya tidak diambil dari kalimat lain, maka ia termasuk Isim Jamid.
     Berbeda dengan محمّد (orang yang terpuji) maka kalimat ini bukan Isim Jamid, karena bentuk kalimatnya diambil dari حمَّد )menurut ulama kufah) atau dari تحميد (menurut ulama basrah), juga الغفار (yang maha pengampun) bukan termasuk Isim Jamid karena kalimat ini adalah bentuk mubalaghah yang diambil dari غفر atau مغفرة\.غفران

2.      Pembagian Isim Jamid

      Isim Jamid terbagi kepada dua : اسم الذات (isim zat) dan اسم المعنى (isim ma’na)

a.      Isim Jamid Zat (اسم الذات  )  atau Isim Jenis ( اسم الجنس )

اسم الذات هو ما لم يؤخذ من لفظه فعل بمعناه
            Isim Jamid Zat yaitu isim yang tidak diambil dari bentuk lafaznya itu akan kalimat fi’il (kata kerja) dengan ma’nanya. Contoh:

رجل (seorang laki-laki), غصن (sebuah pohon),نهر  (sungai), maka ketiga kalimat ini adalah isim Jamid Zat karena tidak bisa dijadikan kalimat fi’il (kata kerja).

            Berbeda dengan حمدًا  (pujian) maka ia bukan Isim Jamid Zat karena bisa dijadikan kalimat fi’il misalnya : حمدتُ (aku memuji) يحمد  (ia sedang memuji)احمدْ  (puji olehmu!).

b.      Isim Jamid Ma’na ( اسم المعنى ) atau Masdar ( المصدر )

اسم المعنى (المصدر) هو ما دل على معنى مجرد من الزمان
                        Isim Jamid Ma’na (Masdar) yaitu kalimat yang menunjukkan atas suatu ma’na yang tidak berkaitan dengan waktu, dan bisa dijadikan kalimat fi’il (kata kerja).
Contoh:

جلوس (duduk) adalah Isim Jamid Ma’na karena bisa dijadikan kalimat fi’il yaitu جلستُ (telah duduk aku), نجلس (sedang duduk aku), اجلس (duduklah!)

اتحاد (persatuan) adalah Isim Jamid Ma’na karena bisa dijadikan kalimat fi’il yaitu اتحدنا  (kami telah bersatu), نتحد (kami akan bersatu), اتحدوا (bersatulah kalian!)

                        Isim Jamid Ma’na diambil dari bentuk masdar dari seluruh wazan atau timbangan, baik tsulatsi (huruf asalnya 3) atau ruba’i (huruf asalnya 4), baik qiyasi (sesuai kaedah) atau sama’i (dari lisan orang arab), juga dari semua jenis masdar, seperti : masdar mimi (diawali mim), masdar sina’i (diakhiri ya nisbah), masdar marroh (menunjukkan kuantitas perbuatan), dan lain-lainnya.

B.     Isim Musytaq ( اسم المشتق )

1.      Pengertian Isim Musytaq

الاسم المشتق هو ما أخذ من غيره ودل على شيء موصوف بصفة
            Isim Musytaq yaitu kalimat isim yang bentuk kalimatnya diambil dari kalimat  lain, dan menunjukkan atas sesuatu yang disifati dengan sifat tertentu. Contoh:

كاتب (yang menulis) maka kalimat ini adalah isim musytaq karena ia diambil dari kalimat كتابة  , dan disifati dengan “menulis”.

الرحمن (yang maha pengasih) maka kalimat ini adalah isim musytaq karena ia diambil dari kalimat رحمة , dan disifati dengan “pengasih”.

مريض (yang sakit) maka kalimat ini adalah isim musytaq karena ia diambil dari kalimat مرضا , dan disifati dengan sifat “sakit”.

2.      Pembagian Isim Musytaq

      Isim Musytaq itu terbagi kepada tujuh, yaitu : isim fa’il dan sighat mubalaghah ( اسم الفاعل والمبالغة ), isim maf’ul ( اسم المفعول ), sifat musyabbahah صفةالمشبهة ) ), isim tafdhil ( اسم التفضيل ), isim zaman ( اسم الزمان ), isim makan ( اسم المكان ), dan isim alat ( اسم الآلة ).

a.       Isim Fa’il dan Sighat Mubalaghah ( اسم الفاعل والمبالغة )

اسم الفاعل : اسم مشتقّ للدلالة على من وقع منه الفعل
            Isim fa’il yaitu isim musytaq untuk menunjukkan atas orang yang terbit dari padanya suatu perbuatan. Contoh:

1)      نام الرجل ، فهو نائم (Telah tidur seorang laki-laki, maka ia adalah orang yang tidur) kalimat نائم bentuknya adalah isim fa’il.

2)      كتب محمد ، فهو كاتب (telah menulis Muhammad, maka ia adalah orang yang menulis) kalimat كاتب bentuknya adalah isim fa’il.

Isim fa’il mempunyai bentuk dan timbangan tertentu, diantaranya:
الأمثلة
الأوزان
الفعل
كاتب-ضعيف-صعْب-فرِح-عطشان-أحمر
فَاعِل-فَعِيْل-فَعْل-فَعِل-فعْلان-أَفْعَل-.......
الثلاثي
مُحسِن- مقاتل- مصدِّق- مُستغفِر- منكسِر
مُفعِل- مُفاعِل- مُفعِّل- مستفعِل-منفعِل- مفتعِل- متفعِّل-........
غير الثلاثي
                      
  Shighat mubalaghah ialah isim yang bermakna isim fa’il tetapi memiliki bentuk tertentu dengan maksud mubalaghah (bersangatan), artinya ma’nanya lebih dari isim fa’il biasa. Seperti عالم (orang yang mengetahui) kalau diubah bentuknya menjadi mubalaghah عليم (maha mengetahui).

Bentuk timbangan sigat mubalaghah
Contoh
Isim fa’il
Wazan
صوَّام- منّاع- قوّام
صائم- مانع- قائم
فَعَّال
مِطعان
طاعن
مِقْعَال
غفور- شكور
غافر-شاكر
فَعُوْل
عليم- قدير
عالم- قادر
فَعِيْل
حذِر
حاذر
فَعِل

b.      Isim Maf’ul

إسم المفعول إسم مشتق من الفعل المبني للمجهول للدلالة على ما وقع عليه الفعل

            Isim maf’ul yaitu isim yang diambil dari fi’il majhul untuk menunjukkan kepada sesuatu yang menimpa kepadanya perbuatan. Contoh:
سُمع الأذان، فالأذان مسموع {{Azan terdengar
Maka kalimat "مسموع" diambil dari kalimat fi’il madhi majhul"سمع".

c.       Sifat Musyabbahah Dengan Isim Fa’il

الصفة المشبهة باسم الفاعل اسم مشتق لا يصاغ إلا من الفعل الثلاثي اللازم. وهي وصف يدل على من
 قام به الفعل على وجه ثبوت.
            Sifat musyabbahah dengan isim fa’il suatu isim musytak yanghanya terbentuk dari fi’il tsulasi lazim. Ia adalah suatu sifat yag menunjukkan kepada orang yang meresap kokoh di dirinya perbuatan. Contoh:
هذا الصائم عطشان {  {Ini orang yang berpuasa selalu haus
Maka kalimat "عطشان" menunjukkan sifat yang tetap pada"الصائم"

                    Bentuk-bentuk sifat musyabbahah:
الأمثلة
وزن الصفة المشبهة
وزن الفعل اللازم
فرح- سلس- طرب
فعِلٌ
1.     فعِلَ
أحمر- أكحل- أعرج
أفعَل
غضبان- جوعان- عطشان
فَعْلان
كريم- نظيف- شريف
فعيل
2.     فعُل
سهل- عذب- ضخم
فَعْل
شجاع- فرات
فُعال
جبان- حصان
فَعال

حسن- بطل
فَعَل

حلو- صلب
فُعْل

طيب- شيق- أشيب

فَعَل

d.      Isim Tafdhil

اسم التفضيل اسم مشتق على وزن  أفعل للدلالة على شيئين اشتركا فى صفة وزاد احدهما عن الآخر فى
 هذه الصفة.  
                        Isim tafdhil sebagian dari isim mustaq berwazan afala yang menunjukkan dua sesuatu yang berserikat pada suatu sifat, namun salah satunya lebih dominan pada itu sifat. Contoh:
الشمس أكبر من الأرض

e.       Isim Zaman Dan Makan

اسم الزمان اسم مشتق للدلالة على زمان وقوع الفعل.
                        Isim zaman sebagian dari isim mustaq yang berfungsi menunjukkan waktu terjadinya perbuatan. Contoh:
مَوعِد الامتحان أول يونيو .
اسم المكان اسم مشتق للدلالة على مكان وقوع الفعل .
                        Isim makan termasuk dari isim mustaq yang berfungsi yang menunjukkan tempat kejadian perbuatan. Contoh:
مَلعَب الكرة فسيح .
                       Bentuk-bentuk isim zaman dan makan:
الفعل
الوزن
ألامثلة
1. الثلاثي
1. مَفعَل
2. مَفعِل
مَلهَى- مَصنَع- مَدخَل
مَنزِل- مَولِد
2. غير الثلاثي
وزن اسم المفعول
مُجتمَع- مُستَودَع- مستشفى

f.       Isim Alat

اسم الآلة اسم مشتق للدلالة على الاداة التي وقع به الفعل.
                        Isim alat termasuk dari isim mustaq yang berfungsi untuk menunjukkan alat/perkakas yang dengannya terjadi perbuatan.
                        Bentuk-bentuk isim alat:
الوزن
الامثلة
مِفعَال
مفتاح- منشار- مِرْآة- محراث- ميزان
مِفعَل
مبرد- مجهر- مغزل- مثقب
مِفعَلَة
مِكنَسَة- مطرقة- ملعقة- مِكْواة
   قد يأتي اسم الآلة على غير الاوزان السابقة .
   مثل : سكين- شوكة- قلم.
   أجاز مجمع اللغة العربية بمصر وزن فَعَّالَة للدلالة على الآلة .
   مثل : ثَلّاجة- غسالة- خرَّامة .

A.    Kesimpulan

            Isim dilihat dari segi bentuknya terbagi kepada dua, yaitu isim jamid dan isim musytaq. Isim jamid ialah isim yang terbentuk bukan berasal dari kalimat lain. Sedangkan isim musytaq ialah isim yang terbentuk dan berasal dari kalimat lain, bahkan menunjukkan sesuatu yang disifatkan dengan sifat.
            Isim jamid ada dua macam:

1)      Isim zat atau isim jenis
2)      Isim ma’na atau masdar

Isim musytaq ada tujuh macam:

1)      Isim fa’il dan sighat mubalaghah
2)      Isim maf’ul
3)      Sifat musybbahah dengan isim fa’il
4)      Isim tafdhil
5)      Isim zaman
6)      Isim makan
7)      Isim alat

B.     Saran

            Demikianlah makalah yang kami susun, tentunya masih banyak kesalahan karena minimnya pengetahuan kami. Kritik dan saran sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah kami selanjutnya. Akhirnya, kurang dan lebih kami minta maaf. Semoga bermanfaat dan dapat menambah khasanah keilmuan bagi kita semua.


DAFTAR PUSTAKA

Ni’mah, Fuad, Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-Arabiyah, Beirut: Dar Ats-Tsafaqah Al-Islamiyah.

Isim Ma’rifat dan Nakiroh


Isim Ma’rifat dan Nakiroh

Ahmad Risal SM S.Pd.I
ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id


PEMBAHASAN MATERI

2.1 Pengertian dari isim ma’rifah dan isim nakirah

Kaidah:                                                                                               القاعدة 

المعرفة اسم يدل على شيئ معين

Ma’rifat, yaitu suatu isim yang menunjukkan pada suatu benda tertentu.

النكرة اسم يدل على شيئ غير معين

Nakirah, yaitu suatu isim yang tidak menunjukkan pada suatu benda tertentu.

            Isim itu terbagi pada nakirah dan ma’rifah.

1. Isim nakirah adalah isim yang pengertiannya tidak tertentu, seperti :

= seorang manusia, dan
= sebuah pena, (tidak tertentu pena yang mana)

(1). Kalimah Isim dapat dipasangi AL dan membekaskan ma’rifah atau menjadikannya tertentu. contoh: المدرسة

maka dapat dipasangi AL dan membekaskan Ma’rifah menjadi contoh:

الرَّجُلُ شُجَاعٌ، الكِتَابُ نَفِيْسٌ

(2). Kalimah Isim menduduki kedudukan Isim yang dapat dipasangi AL, seperti lafazh ذُوْ  artinya “pemilik” sinonim dengan lafazh صَاحِبٌ “pemilik“. Contoh: جَاءَ ذُوْ عِلْمٍ

pada contoh ini maksudnya adalah صَاحِبُ عِلْمٍ “pemilik Ilmu” maka lafadz ذُوْ adalah isim nakirah yang tak dapat dijodohkan dengan AL, akan tetapi ia menduduki kedudukan Isim yang dapat dipasangi AL pemberi bekas ma’rifah, yaitu lafazh صَاحِبُ.

2. Isim ma’rifat adalah isim yang diketahui (difahami) maksudnya.

Isim Ma’rifat

ما دل على معين
          Lafadz yang menunjukkan benda tertentu.

Isim Nakirah

والنكرة كل اسم شائع في جنسه لا يختص به واحد دون آخر وتقريبه كل ما صلح دخول الألف واللام عليه نحوالرجل والغلام

Isim nakirah ialah isim yang jenisnya bersifat umum yang tidak menentukan sesuatu perkara dan lainnya. Singkatnya ialah, setiap isim yang layak dimasuki alif dan lam, contoh : الرجل   atau  الغلام   (asalnya رجل  dan  غلام).[3]

2.2 Pembagian Isim Ma’rifat dan Isim Nakirah

            1. Pembagian Isim Ma’rifat

A. Isim ‘Alam
            Kaidah:                                                                                                 القاعدة 
العلم اسم معرفة سمى به شخص أومكان أوحيوان أو أي شيئ اخر

Alam, yaitu isim ma’rifat yang digunakan untuk menamai orang, tempat, hewan, atau benda-benda lain 

            Dan isim ‘alam  itu terbagi pula pada isim, kunyah dan laqab. Yang dimaksud dengan kunyah yaitu setiap sebutan nama atau panggilan yang tersusun dari dua kata dengan cara idhafat. Dan laqab yaitu setiap panggilan yang menunjukkan ketinggian martabat atau merendahkannya. 

B. Isim Dhamir
            Isim dhamir yaitu isim kata ganti untuk pembicara atau orang pertama, dan untuk orang yang diajak bicara atau orang kedua, seperti : انا    = saya, dan انت  = engkau (lk), dan untuk orang ketiga هو = dia (lk).
   
            Dan dhamir itu terbagi kepada dua bagian, yaitu:
1. Dhamir bariz
2. Dhamir mustatir
            Yang dimaksud dengan dhamir bariz adalah dhamir yang ada bentuknya (berupa lafadz) seperti ( ت ) pada فهمت  . Dan dhamir mustatir adalah dhamir yang tidak ada bentuknya (tidak tampak berupa lafadz), melainkan hanya dalam pemahaman saja, seperti dhamir pada fi’il  فهم  dhamirnya هو . Dan dhamir bariz itu terbagi pada munfashil dan muttashil. Dhamir munfashil yaitu dhamir yang tampak karena berdiri sendiri dalam pengucapan, seperti انا  = saya, dan نحن  = kita. Dan dhamir muttashil yaitu dhamir yang tampaknya seakan-akan merupakan bagian atau suku kata dari kata-kata sebelumnya seperti ( ت ) pada فهمت dan ( ا  ) pada فهما  .

C. Isim Mubham

            Yang dikehendaki adalah isim isyaroh dan isim maushul, dikarenakan makna keduanya yang samar (mubham), yang bisa tertentu dengan melalui isyaroh dan shilah.

            1. Isim Isyaroh
                        Yaitu isim yang dicetak untuk perkara yang diisyarohi yang tampak dengan jari (telunjuk) dan sesamanya.
Contoh : هذا, هذه , هؤلاء    
      
2. Isim Maushul

                        Yaitu isim yang menunjukkan sesuatu/seseorang yang tertentu dengan cara menyebutkan suatu kalimat sesudahnya yang disebut selatul-maushul.[8] Dan lafadz-lafadznya adalah :
الذى                 : yang digunakan untuk seorang laki atau sesuatu jenis 
  mudzakkar
اللذان / اللذين    : yang digunakan untuk dua orang/benda jenis mudzakkar       
 الذين/ الأولى    : yang digunakan untuk jama’ manusia mudzakkar
التى                  : yang digunakan untuk seorang perempuan atau sejenis
  muannats
اللتان / اللتين     : yang digunakan untuk dua orang/benda jenis muannats
اللاتى / اللائ     : yang digunakan untuk jama’ manusia muannats

D. Isim-isim yang dimasuki أل 

          Yaitu isim yang dimasuki أل dan memberikan pengertian ketentuan bagi isim tersebut. Seperti : السيف  = pedang itu
                                     القلم    = pena itu


E. Isim yang di idhofahkan pada isim ma’rifat

            Yaitu isim-isim yang di idhofahkan pada salah satu dari isim-isim ma’rifat yang di muka maka terjadilah ma’rifat dengan itu :

Contoh: 
قلم محمود        = Di idhofahkan pada Isim Alam
قلم هذا            = Di idhofahkan pada Isim Isyaroh
قلمك                 = Di idhofahkan pada Isim Dhamir
قلم الرجل         = Di idhofahkan pada lafadz yang dimasuki Al
قلم الذى كتب     = Di idhofahkan pada Isim Maushul

F. Isim ma’rifat dengan sebab Nida’

            Yaitu isim munada’ yang ditentukan maksudnya, maka dengan sebab itu jadilah isim ma’rifat (isim munada’ yaitu isim yang diseru dengan kata seru  يا ).

Contoh :
يا رجل                = Hai! Bung!
يا غلام               = Hai nak!

2.3 Pengaplikasian isim ma’rifat dan isim nakirah didalam bentuk kalimat

            A. Contoh-contoh dari Isim Ma’rifat

1. Contoh dari Isim Alam :
ابو بكر يذهب الى السوق-               = Abu bakar sedang pergi ke pasar
هارون الرشيد يشتري الرز-            = Harun Ar-Rasyid sedang membeli beras

2. Contoh dari Isim Dhamir :
- انا موظف                                 = Saya adalah seorang pegawai
- بيتها فسدة                                = Rumahnya(pr) itu rusak

3. Contoh dari Isim Mubham

            a. Contoh dari Isim Isyaroh :
                        -  هذا كوب                      = Ini adalah sebuah gelas
                        - هذه خزانة                    = Ini adalah sebuah Almari
                        - اولاء الصائمون             = Mereka adalah orang-orang yang berpuasa
            b. Contoh dari Isim Maushul :
                        -    اكرم الذى علمك          = Muliakanlah orang yang telah
    mengajarkan engkau
                        - اكرم الذين علماك           = Muliakanlah orang yang telah
    mengajarkan engkau
                        - اكرم الذين علموك          = Muliakanlah orang yang telah
    mengajarkan engkau
Dari ketiga contoh tersebut memiliki arti yang sama, namun berbeda cara penempatan dan kedudukannya.

4. Contoh dari Isim-isim yang dimasuki أل  :

            - الدكان فسيح                              = Toko itu luas                       
            - المستشفى فسدة                                     = Rumah sakit itu rusak

5. Contoh dari Isim yang di idhofahkan pada isim ma’rifat
            - بيت عائشة ضيقة                        = Rumah Aisyah itu sempit
            - جدار ذلك واسخ                         = Dinding itu kotor

6. Contoh dari Isim ma’rifat dengan sebab Nida’ :
            - يا احمد ارجع الى بيتك                 = Hai Ahmad! Pulanglah ke rumahmu!
            - يا فاطمة ا كنسى فناء بيتك            = Hai Fatimah! Sapulah Halaman
   Rumahmu!
            B. Contoh dari Isim Nakirah :
- ( Didalam laci itu ada buku)                          =         فى الدرج كتاب
- ( Seorang laki-laki menanyakan ayahku)      = سأل رجل عن والدى
- ( Muhammad merobek kertas )                     =  مزق محمد ورقة     

            Keterangan :
                        Apabila kita perhatikan setiap isim dalam kalimat-kalimat di atas, kita akan melihat bahwa kata كتاب (buku), رجل  (seorang laki-laki), ورقة (kertas), ia tidak menunjukkan kepada benda tertentu yang sudah kita kenal. Isim seperti ini disebut dengan Isim Nakirah.

Ada dua jenis isim Ma’rifat:
  •   Kalimah Isim tidak dapat dipasangi AL,  pun tidak  menduduki kedudukan Isim dapat dipasangi AL. Contoh: جَاءَ عَلِيٌّ
  •  Kalimah Isim dapat menerima AL, akan tetapi tidak membekaskan ma’rifat. contoh:

 جَاءَ الْعَبَّاسُ

contoh AL pada lafazh العباس tidak berfungsi mema’rifahkan, karena ia sudah ma’rifah sebab Isim ‘Alam.  Mengenai AL jenis ini, Insya-Allah akan diterangkan pada Babnya sendiri. untuk sementara bisa dijadikan rujukan   Terjemah Alfiyah Bab Ma’rifat sebab alat Ta’rif.


KESIMPULAN DAN PENUTUP

            Isim Ma’rifat, yaitu suatu isim yang menunjukkan pada suatu benda tertentu yang bersifat khusus, dan Isim Nakirah, yaitu suatu isim yang tidak menunjukkan pada suatu benda tertentu yang bersifat umum. Di samping itu, macam-macam Isim Ma’rifat dan Isim Nakirah antara lain:

Isim Ma’rifat terbagi menjadi 7 macam, yaitu: Isim Alam, Isim Isyaroh, Isim Maushul, Isim Dhamir, Isim-isim yang dimasuki Alif dan Lam, Isim yang di idhofahkan pada isim ma’rifat dan Isim Ma’rifat dengan sebab Nida’. Dan Isim Nakirah tidak ada pembagiannya atau macam-macamnya.

Akhirnya, penulis pribadi megucapkan terima kasih kepada Allah SWT, dan kepada Bapak Prabowo Adi Widayat, M.Pd.I selaku dosen pengampu yang telah membimbing penulis dalam membuat makalah yang sederhana ini. Dan penulis berharap kritikan serta saran dari dosen pengampu maupun dari pembaca itu sendiri. Tentunya kritikan yang membangun dan membawa kepada kebaikan bagi penulis.

DAFTAR PUSTAKA

-          Thalib, Drs. Muhammad, Tata Bahasa Arab 2 Terjemah ANNAHWUL WADHIH Ibtidaiyyah, (Bandung:PT Al Ma’arif), 2002

-          Umam, Prof. Dr. H. Chatibul dkk, Kaidah Tata Bahasa Arab, (Jakarta:Darul Ulum Press), 2010

-          Anwar, K.H. Muhammad, Ilmu Nahwu, (Bandung:Penerbit Sinar Baru Algensindo), 2009

-          Shofwan, M.Sholihuddin, Pengantar Memahami Al-Jurumiyyah, (Lirboyo:Darul Hikmah), 1999

-          Syaekhuddin, Ahmad dkk, Belajar Bahasa Arab, (Jakarta:Penerbit Erlangga), 2009

Isim idhofah (yang disandarkan)



Isim idhofah (yang disandarkan)

Ahmad Risal SM S.Pd.I
ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id

PEMBAHASAN 

A.      Pengertian Idhofah

Idhofah adalah penyandaran suatu kalimah (isim) kepada kalimah lain sehingga menimbulkan pengertian yang lebih spesifik. Idhofah tersusun daridua bagian isim yaitu mudhof dan mudhof ilaih. Bagian yang pertama disebut mudhof (kata yang disandarkan), dan bagian yang kedua disebut mudhof ilaih(kata yang disandari).

B.       Hukum Idhofah

a.         Dalam susunan idhofah, mudhof tidak didahului alif lam (ال).
Contoh:

Mudhof= الرَّسُوْلُ
mudhof ilaih= اللهُ
Susunan idhofahnya adalah,
 رَسُوْلُ اللهِ  (Rasulullah)
mudhof=البَابُ
 mudhof ilahi= الْمَسْجِدُ
Susunan idhofahnya adalah,
بَابُ الْمَسْجِدِ  (Pintu Masjid)

b.         Akhiran pada mudhof dalam idhofah tidak boleh tanwin.

Contoh:
Mudhof=  حَقِيْبِةٌ
 mudhof ilaihi=  مُحَمَّدٌ
Susunan idhofahnya adalah,
حَقِيْبَةُ مُحَمَّدٍ  (Tas Muhammad)
Mudhof=  جَوَّالٌ
mudhof ilaihi= مُحَمَّدٌ  
Susunan idhofahnya adalah:
جَوَّالُ مُحَمَّدٍ  (Handphone Muhammad)

c.         Membuang nun mutsanna atau jamak pada mudhof dalam idhofah.

Contoh:
 mudhof= كِتَابَانِ
mudhof ilaihi= مُحَمَّدٌ  
Susunan idhofahnya adalah,
كِتَابَا مُحَمَّدٍ  (Kitab Muhammad)
Mudhof= مُدَرِّسُوْنَ  
mudhof ilaihi= مَعْهَدٌ  
Susunan idhofahnya adalah,
مُدَرِّسُوْ مَعْهَدٍ  (Para pengajar ma’had) 

Sedangkan aturan mudhof ilaih yaitu:

a.         Diawali dengan alif lam (ال). Selalu menempati status majrur (yaitu menggunakan tanda kasrah)
Contoh: الجَامِعَةِ, (kampus) ,المَكْتَبِ (kantor)  diawali dengan alif lam dan berharokat kasroh.

b.         /tidak diawali alif lam (ال) tetapi harokat kasroh tanwin.
مُحَمَّدٍ (Muhammad)
بَيْتٍ (rumah) tidak boleh menggunakan alif lam.

c.         Tidak berupa kata sifat, sebab apabila berupa kata sifat, susunannya berupa menjadi bukan lagi idhofah.'

Contoh idhofah yang lain:
مَسْجِدُ الجاَمِعَةِ
Masjid kampus
سُورَةُ الفَاتِحَهِ
Surat Al-Fatihah
بَيْتُ الأُسْتاَذِ
Rumah ustadz
باَبُ الفَصْلِ
Pintu kelas
Kataمَسْجِدُ   رَسُوْلُ, سُورَةُ, , بَيْتُ , باَبُ merupakan mudhof. Sedangkan kataالجاَمِعَةِ , الفَاتِحَهِ , اللّةِ , الأُسْتاَذِ , الفَصْلِ 
 merupakan mudhof ilaih.

Penisbatan atau penyandaran idhofah juga menyimpan arti مِنْ (dari), فِيْ (di dalam),لِ (untuk/milik).
Contoh:
مَكاَنُ الْوُضُوْءِ
Tempat (untuk) wudhu
مُوَظَّفُ الْمَكْتَبِ
Pegawai(nya) kantor
تِلْمِيْذُ مَدْرَسَةٍ
Siswa (di) sekolah
خاَتَمُ ذَهَبٍ
Cincin (dari) emas
سَيَّارَةُ فَاطِمَةِ
Mobil (milik) Fatimah

C.      Macam-macam idhofah

Idhofah dibagi menjadi dua, yaitu:

1.         Idhofah maknawiyyah yaitu idhofah yang memberikan faedah mema’rifatkan (sehingga dapat menimbulkan perubahan dari nakiroh menjadi ma’rifat atau sekurang-kurangnya taksis/tidak berarti umum betul).Definisinya adalah keadaan mudhof bukan merupakan isim sifat yang dimudhofkan. Artinya tidak merupakan isim sifat sama sekali.
Contoh:
البَيْتِ مِفْتاَحُ
kunci rumah
التِلْمِيْذِ كِتاَبُ
Buku murid
مَكْتَبُ بَرِيْدٍ
Kantor pos

2.         Idhofah lafaziyyah yaitu idhofah yang tidak memberikan faedah mema’rifatkan mudhof (yaitu sekedar untuk meringankan bacaannya saja). Definisinya adalah keadaan mudhof merupakan isim sifat yang di mudhofkan.
Contoh:
عَظِيْمُ الْاَمَلِ
Yang besar cita-citanya
مُرَوَّعُ الْقَلْبِ
Yang di pelihara hatinya
قَلِيْلُ الْحِيَلِ
Sedikit tipu muslihatnya

Dalam idhofah lafazziyah, penambahan alif lam pada mudhof dibolehkan, karena sesungguhnya dari sisi makna bukanlah mudhof.
Contoh:
 الْجَعْدُ الشَّعْرِ

Rambut yang bergumpal (alif lam berada pada lafaz yang di idhofati oleh mudhof ilaih itu).
Adapun adanya alif lam itu pada isim sifat, bisa dianggap cukup (alif lam pada mudhofnya saja, tidak ada pada mudhof ilaihnya), yaitu kalau isim sifat itu tasniyah atau jamak mudzakar salim.
Contoh:
الْمُعَلِّمُوْ زَيْدٍ
Orang-orang (banyak) yang mengajari zaid
الْمُعَلِّماَ زَيْدٍ
Dua orang yang mengajari zaid.

Kesimpulan

Idhofah merupakan penyandaran isim kepada isim lainnya yang terdiri dari mudhof dan mudhof ilaih. Isim pertama disebut mudhof, sedangkan isim kedua disebut mudhof ilaih. Mudhof tidak berawal dengan alif lam, sedangkan mudhof ilaih berawalan alif lam dan selalu di jarkan atau tidak berawalan alif lam tetapi berharokat tanwin.

Mudhof dibagi menjadi dua, yaitu mudhof ma’nawiyah dan mudhof lafazziyah. Mudhof ma’nawiyah merupakan idhofah yang memberikan faedah mema’rifatkan mudhof dan mudhof bukan merupakan isim sifat. Sedangkan idhofah lafazziyah yaitu idhofah yang mudhofnya berupa isim sifat, dan tidak ada perubahan makna/tidak mema’rifatkan mudhof, hanya lafaznya saja yang di idhofkan agar memudahkan bacanya.


DAFTAR PUSTAKA

Al Ghulayani, Syaih Musthofa.1992.الجمعد دروسل الرّبيّة.As-Shifa:Semarang
Munawari, Akhmad.2004.Belajar Cepat Tata Bahasa Arab.Norma Media
       Idea: Yogyakarta
Pasmin, Drs, Dkk.2007.Bahasa Arab untuk Madrasah Tsanawiyah.Alfadinar:Surakarta
Basyir, Abdul, BA.2003.Pendidikan Bahasa Arab.Nuansa Aksara Grafika:Yogyakarta
Muhammad.1996.Matan Alfiyah.Al-Ma’arif:Bandung
Sukamto, Drs, M.A., Dkk.2005.Bahasa Arab.Pokja Akademik:Yogyakarta

ISIM 'ALAM (Kata Benda Nama) اِسْم عَلَمُ


Penjelasan Isim Alam 
الْعَلَمُ
ISIM ALAM


DEFINISI ISIM ALAM


اسْمٌ يُعَيِّنُ الْمُسَمَّى مُطْلَقَا ¤ عَلَمُـــهُ كَجَعْـــفَرٍ وَخِـرْنِقَا

Nama yang secara mutlaq menunjukkan kepada sesuatu yang diberi nama, itulah “Isim Alam” seperti lafadz “Ja’far” (Nama Pria) dan “Khirniqa” (Nama Wanita)

وَقَــرَنٍ وَعَـدَنٍ وَلاَحِقٍ ¤ وَشَذْقَمٍ وَهَيْلَةٍ وَوَاشِقِ

juga seperti lafadz “Qaran” (Nama Kabilah), ” ‘Adan” (Nama Tempat), “Lahiq” (Nama Kuda), “Syadzqom” (Nama Unta), “Hailah” (Nama Kambing) dan “Wasyiq” (Nama Anjing).

اِسْم عَلَمُ
ISIM 'ALAM (Kata Benda Nama)

Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim 'Alam yaitu Isim yang merupakan nama dari seseorang atau sesuatu. Di bawah ini beberapa contoh Isim 'Alam (nama), bacalah dengan suara nyaring dan jelas satu persatu:

مُحَمَّد - آدَم - إِدْرِيْس - نُوْح - إِبْرَاهِيْم - إِسْمَاعِيْل - إِسْحَاق - يَعْقُوْب - يُوْسُف - مُوْسَى - سُلَيْمَان - يُوْنُس - عِيْسَى - مَرْيَم - خَدِيْجَة - عَائِشَة - فَاطِمَة - عُمَر - عُثْمَان - جِبْرِيْل - مِيْكَال - لُقْمَان - زَيْد - فِرْعَوْن - قَارُوْن - إِبْلِيْس - عِفْرِيْت - مَكَّة 

ALAMI ISIM, ALAMI KUN-YAH, ALAMI LAQOB

وَاسْمَـاً أَتَى وَكُنْـيَةً وَلَـقَبَا ¤ وَأَخِّرَنْ ذَا إِنْ سِوَاهُ صَحِبَا

Isim Alam datang dengan sebutan  “Alami Isim” (Nama Asli). Juga “Alami Kun-yah” (Nama Kemargaan) dan “Alami Laqob” (Nama Julukan) akhirkanlah! untuk “Alami Laqob” ini, jika selainnya menyertainya.

وَإِنْ يَكُوْنَا مُفْرَدَيْنِ فَأَضِفْ ¤ حَتْمَـاً وَإِلاَّ أَتْبِعِ الذي رَدِفْ

jika keduanya  sama-sama Kalimah Mufrad (satu kata) maka Mudhofkanlah! dengan wajib. Tapi jika tidak, maka Tabi’kanlah! Kalimah yang terbelakang.

MANQUL, MURTAJAL, JUMLAH, TARKIB MAZJI

وَمِنْهُ مَنْقُولٌ كَفَضْلٍ وَأَسَدْ ¤ وَذُو ارْتِجَال كَسُعَــــادَ وَأُدَدْ

Juga diantara Isim ‘Alam, yaitu ada sebutan “Alami Manqul” (Nama dari pindahan perkataan lain) seperti contoh “Fadhol” (Nama pindahan, diambil dari isim Masdar artinya: utama) dan “Asad” ( Nama pindahan, diambil dari jenis hewan artinya: Harimau). Dan juga sebutan “Alami Murtajal” (Nama yg sebelumnya tidak pernah dipakai untuk yg lain kecuali khusus untuk sebuah Nama) contoh “Su’ad” dan “Udad”.

وَجُمْلَةٌ وَمَـا بِمَزْجٍ رُكِّبَا ¤ ذَا إنْ بِغَيْرِ وَيْهِ تَمَّ أُعْرِبَا

Diantara Isim Alam juga, yaitu susunan Jumlah dan  susunan Tarkib Mazji (campuran dua kalimah menjadi satu). Susunan Isim Alam yg demikian ini,  jika susunan akhirnya bukan kata “Waihi” maka dihukumi mu’rob.

وَشَاعَ فِي الأَعْلاَمِ ذُو الإِضَافَهْ ¤ كَعَــــــبْدِ شَمْــسٍ وَأَبِي قُحَـــافَهْ

Didalam Isim Alam juga banyak penggunaan susunan Idhofah, contoh “Abd Syamsi” dan “Abu Quhafah”

ALAMI JINSI

وَوَضَعُوَا لِبَعْضِ الأجْنَاسِ عَلَمْ ¤ كَعَلَم الأَشْخَـاصِ لَفْــظَاً وَهْوَ عَمْ

Dan mereka orang Arab,  juga menjadikan sebagian Isim Jenis sebagai Isim Alam (Alami Jenis), secara lafazh ia dihukumi seperti Alami Syakhsh (Nama Individu) secara makna ia tetap umum.

مِنْ ذَاكَ أمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ ¤ وَهكَـــذَا ثُعَـــــالَةٌ لِلْثَّعْــــلَبِ

Diantara Alami Jenis itu, yaitu seperti “Ummu ‘Iryath” alami jenis untuk Kalajengking, demikian juga “Tsu’alah” alami jenis untuk Musang.

وَمِثْلُـــهُ بَرَّةُ لِلْمَبَرَّهْ ¤ كَذَا فَجَارِ عَلَمٌ لِلْفَجرَهْ

seperti itu juga “Barroh” alami jenis untuk Tabi’at Baik, demikian juga “Fajari” alami jenis untuk Tabi’at Buruk. 

Isim 'alam 

Isim ‘alam adalah isim yang menunjukan makna untuk kata benda yang menunjuk kepada nama seseorang, dan nama tempat.

Contohnya :

محمد (muhammad)، فاطمة (Fatimah)، علي (Ali)، العرب (Al-’Arab) ، مكة (makkah)، إبراهيم (Ibrohim)، عند الله (’Abdulloh)

Isim ’alam dilihat dari bentuknya itu terbagi mejadi 3 macam:

1. Kunya (كنية) yakni isim’alam yang menunjukan nama orang yang berawalan dengan أب (Abu), أم (Umu), ابن(Ibnu).
Contoh : أبوبكر (Abu) ، أم كلثم (Umu kultsum)، ابن سينا (Ibu Sina)

2. Luqub (لقب) yakni isim ’alam yang menunjukan sifat atau gelar dari namanya, cirinya bisanya menggunakan alif-lam.
Contoh : (Al-Ma’mun) المأمون, المتنبى (Al-Mutanbi), الجاحظ (Al-Jahizh), الحافظ (Al-Hafidz) , السقاف (As-Saqof) , العطاش (Al-’Athos)

3. Isim (اسم) yakni isim ’alam yang bukan kunya atau luqub. Isim bisa dibentuk :

a) Dengan Mufrad (مفرد) yakni dibentuk dari kata tunggal.
Contoh :(Yusuf) علي (ilA)، مريم (Maryam)، يوسف
b) Dengan Murokab Tarkib Idhofah (مركب تركب إضافة) yakni dengan susunan Idhofah (dua kata atau lebih yang bermakna satu).
Contoh :(Kafiruzziyat) عبد الغفار (rafohGbdulA')، عبد الله (Abdulloh')، كفر الزيات
c) Dengan Murokab Tarkib Majzi (مركب تركب مجزي) yakni susunan kata majmuk
Contoh: (Hadrolmaut) حضرالموتبور سعد (id'Bur Sa)، نيويورك (YorkNew)،

Isim ’alam dilihat dari Isti’malnya (penggunaan) terbagi menjadi 2 yakni:

1. Murtajil (مرتجل) yakni isim ’alam (baik itu nama orang atau nama tempat) yang hanya untuk ’alamiyah artinya tidak akan digunakan untuk makna diisim-isim lainnya seperti isim washfi/na’at dan isim mashdar.
Contoh : سعاد (ad'Sa)، يوسف (Yusuf)، زينب (Zainab)
دمشق (Damsyiq)، بغداد (Baghdad)، معاوية (wiyaha'Mu)

2. Manqul (منقول) yakni isim ’alam (baik itu nama orang atau nama tempat) yang bisa digunakan untuk makna diisim-isim lain.

a) Dengan isim washfi/na’at (kata sifat)
Contoh : حسن (Hasan) ، محمود (Mahmud) ، كريم (Karim)، شريف (Syarif)
المنصورة (Manshuroh-lA)، القاهرة (Qohiroh-Al)، شادية (Syadiyyah)
b) Dengan isim masdar (kata sandaran)
Contoh (Ikrom) توفيق(Taufiq)، إخلاص(Ikhlash) ، إكرم
اعتدال (tidal'I)، هدى (Huda)

Isim ’alam yang ghairu munawwan atau tidak menerima tanwin ada 6 macam :

1) Semua Isim 'alam yang diakhiri dengan Ta Marbuthah (meskipun ia adalah Mudzakkar). Misalnya: فَاطِمَةُ (Fatimah), آمِنَةُ (Aminah), مَكَّةُ (Makkah), مُعَاوِيَةُ (Muawiyah), حَمْزَةُ (Hamzah), dan sebagainya.

2) Semua Isim 'alam Muannats (meskipun tidak diakhiri dengan Ta Marbuthah). Misalnya: خَدِيْجَةُ (Khadijah), سَوْدَةُ (Saudah), زَيْنَبُ (Zainab), بَغْدَادُ (Bagdad), دِمَشْقُ (Damaskus), dan sebagainya.

3) Isim 'alam yang merupakan kata serapan atau berasal dari bahasa 'ajam (bukan Arab). Misalnya: إِبْرَاهِيْمُ (Ibrahim), دَاوُدُ (Dawud), يُوْسُفُ (Yusuf), فِرْعَوْنُ (Fir'aun), قَارُوْنُ (Qarun), dan sebagainya.

4) Isim 'alam yang menggunakan wazan (pola/bentuk) Fi'il. Misalnya: يَزِيْدُ (Yazid), أَحْمَدُ (Ahmad), يَثْرِبُ (Yatsrib), dan sebagainya.

5) Isim 'Alam yang menggunakan wazan فُعَل . Misalnya: عُمَرُ (Umar), زُحَلُ (Zuhal), جُحَا (Juha), dan sebagainya.

6) Isim 'alam yang diakhiri dengan huruf Alif-Nun. Misalnya: عُثْمَانُ (Utsman), سُلَيْمَانُ (Sulaiman), dan sebagainya.


ISIM MAUSHUL [الاسم الموصول]



ISIM MAUSHUL [الاسم الموصول]

OLEH :
Ahmad Risal SM. S.Pd.I
ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id

PENDAHULUAN

Bahasa arab merupakan pelajaran penting bagi mahasiswa yang beragama islam, karena kitab suci Al-qur’an dan al-hadis ditulis dalam bahasa arab. Selain itu, bahasa arab juga sudah termasuk bahasa internasional dan banyak dipelajari oleh para ilmuwan barat untuk mengkaji peradaban islam. Di dalam hadits dikatakan; “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal, yaitu bahwa saya (Muhammad) adalah orang Arab, bahwa Al Qur`an adalah bahasa Arab, dan bahasa penghuni surga di dalam surga adalah bahasa Arab.” (HR. Ath-Thabrani)

Bahasa arab juga mempunyai aturan tersendiri dalam penulisannya, dan mempunyai berbagai macam bentuk kata kerja, kata ganti dan kata sifat. Kata kerja dan kata ganti itu terbagi lagi kedalam beberapa macam bentuk, seperti pada kata ganti diketahui kata ganti isyarat (isim al-isyarâh), kata ganti penghubung (al-isim al-maushũl) dan kata ganti penanya (adawat al-istifhâm). Dalam makalah ini saya akan membahas mengenai al-isim al-maushũl [ الاسم الموصول ] atau kata ganti penghubung beserta contoh-contohnya.

PEMBAHASAN

A.     PENGERTIAN

Isim Maushũl (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Maksudnya, bahwa setiap isim ma’rifat itu akan menjadi jelas bila bersambung dengan kalimat sesudahnya, yang dinamakan Shilah. Shilah(anak kalimat) itu harus memiliki dhamir  yang kembali pada isim maushul, yang dinamakan a’id. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: "yang". Bentuk asal atau dasar dari Isim Maushũl adalah: الَّذِيْ (yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushũl dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:

Kalimat I  جَاءَ الْمُدَرِّسُ = “datang guru itu”.
Kalimat II  اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = “guru itu mengajar fiqh”.
Kalimat III  جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ = “datang guru yang mengajar fiqh”.
Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushũl: الَّذِيْ.

B.     PEMBAGIAN ISIM MAUSHũL


Dalam Bab ini Isim Maushũl terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1.      Isim Maushũl Ismi

Isim Maushũl Ismi adalah Isim Maushũl isim yang selamanya butuh kepada Shilah dan A’id .
Contoh : جَاءَ الَذِّي قَامَ اَبُوْهُ = telah datang seseorang yang ayahnya berdiri.

2.      Isim Maushũl Harfi

Isim Maushũl Harfi adalah semua huruf yang dengan shilahnya di ta’wili dengan Masdar[2]. Sedangkan Isim Maushũl Harfi itu ada lima macam:

a)     Huruf  أنْ “An” dengan dibaca fathah, ini bisa masuk pada fi’il madli, fi’il mudlori’, fi’il Amar.

contoh fi’il madli = عجِبْتُ مِنْ اَنْ قَامَ زَيْدٌ “saya heran dari telah berdirinya Zaid”.
contoh fi’il mudlori’= عجِبْتُ مِنْ اَنْ يَقُوْمَ زَيْدٌ “saya heran dari berdirinya Zaid”.
contoh fi’il Amar = اَشَرْتُ الَيْهِ بِاَنْ قُمْ “saya memberi isyarat dengan perintah berdiri”

b)    Huruf أَنَّ “Anna”

contoh = أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡڪِتَـٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَرَحۡمَةً۬ وَذِڪۡرَىٰ لِقَوۡمٍ۬ يُؤۡمِنُون
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Qur’an] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Qur’an] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”(Q.S. Al-Ankabũt : 51) 

c)      Huruf كَىْ “Kai” hanya bisa masuk pada fi’il mudlori’ saja.

contoh = جِئْتُ لِكَىْ تُكْرِماَ زَيْداً “saya datang supaya kamu  memuliakan atas Zaid”

d)     Huruf مَا “Ma” ada yang berbentuk Masdariyah Dharfiyyah, dan ada yang  Masdariyah Ghairu Dharfiyyah.

Contoh Masdariyah Dharfiyyah = لَااَصْحَبُكَ ماَ دُمْتَ مُنْطَلِقاً “saya tidak bisa menemanimu selama kamu pergi”
Contoh Masdariyah Ghairu Dharfiyyah = عجِبْتُ مِماَ ضَرَبْتَ زَيْداً “saya heran tentang pukulanmu kepada Zaid”

e)     Huruf لَوْ “ Lau” huruf ini bisa masuk pada fi’il Madli dan juga fi’il Mudlori’.

Contoh fi’il Madli = وَدِدْتُ لَوْ قاَمَ زَيْدٌ  “saya senang jika Zaid sudah berdiri”
Contoh fi’il Mudlori’ = وَدِدْتُ لَوْ يَقُوْمُ زَيْدٌ  “saya senang  jika Zaid berdiri”

C.      BENTUK-BENTUK ISIM MAUSHũL

1)    Bentuk Isim Maushũl Mufrad (tunggal) dan Mutsanna (dual)

مَوْصُولُ الاسْمَاءِ الَّذِي الأُنْثَى الَّتِي ¤ وَالْيَـــــا إذَا مَا ثُنِّيَــــا لاَ تُثْــــــبِتِ
“Adapun Isim Mausũl yaitu الَّذِي (jenis laki; baik ‘aqil atau ghairu ‘aqil) dan untuk jenis (perempuan; baik ‘aqil atau ghairu ‘aqil) yaitu الَّتِي. Jika keduanya ditatsniyah-kan (dual), maka huruf Ya’nya jangan ditetapkan atau dibuang.

Contoh = جَاءَ نِيْ الَذِّي قَامَ “datang kepadaku seorang(laki-laki) yang berdiri”.
Contoh = جَاءَ تْنِيْ الَذِّي قَامَ “datang kepadaku seorang (perempuan) yang berdiri”.

بَلْ مَــا تَلِيْـهِ أَوْلِهِ الْعَلاَمَـــهْ ¤ وَالنُّوْنُ إنْ تُشْدَدْ فَلاَ مَلاَمَهْ
Akan tetapi, terhadap huruf yang tadinya diiringi oleh Ya’ yang dibuang tersebut, sekarang iringilah! dengan (memasang) tanda Alamat I’rob (menjadi: الذان dan التان ketika mahal Rofa’. dan menjadi: الذَيْن dan التَين ketika mahal Nashab dan Jarr). adapun Nun-nya jika ditasydidkan, maka tidak ada celaan untuk itu.

Contoh Mutsanna (dual) mahal Rofa’ = جَاءَ  الَلذِّانِ  قَامَ ابُوْهُماَ “ telah datang dua orang yang ayah keduanya berdiri”

Contoh Mutsanna (dual) mahal Nashab =  رَاَيْتُ اللَّذَيْنِ  قَامَ ابُوْهُماَ “saya melihat dua orang yang ayah keduanya berdiri”

Contoh Mutsanna (dual) mahal Jarr = مَرَرْتُ بِللَّتَيْنِ  قَامَ ابُوْهُماَ  “saya bertemu dengan dua orang yang ayah keduanya berdiri” 

2)    Bentuk Isim Maushũl Jama’ (Banyak)

جَمْعُ الَّذِي الألَى الَّذِيْنَ مُطْلَقَا ¤ وَبَعْضُهُمْ بِالْوَاوِ رَفْعَاً نَطَقَا
Jamak-nya lafadz الَّذِي (Isim Mausũl tunggal laki-laki) adalah الألَى atau الَّذِيْنَ secara mutlak (baik untuk mahal Rofa’, Nashab dan Jarr). Ada sebagian dialek orang Arab berbicara dengan menggunakan Wawu ketika mahal Rofa’ (menjadi: اَلَّذُوْنَ )

بِاللاَّتِ وَاللاَّءِ الَّتِي قَدْ جُمِعَا ¤ وَالَلاَّءِ كَالَّذِيْنَ نَزْرَاً وَقَعَا
Lafadz الَّتِي (Isim Mausũl tunggal perempuan) sungguh dijamakkan dengan menjadi اللاَّتِ atau اللاَّءِ. Ditemukan juga اللاَّءِ dihukumi seperti الَّذِيْنَ (isim Mausũl jamak untuk perempuan) tapi jarang.

Contoh mahal Rofa’ = جَاءَ نِيْ الَّذِّيْنَ قاَمُوْا “datang kepadaku mereka yang semuanya berdiri”
Contoh mahal Nashab = رَاَيْتُ الَّذِّيْنَ قاَمُوْا “saya melihat mereka yang semuanya berdiri”
Contoh mahal Jarr = مَرَرْتُ بِالَّذِّيْنَ قاَمُوْا “saya bertemu dengan mereka yang semuanya berdiri”
Contoh mahal Rofa’ بالوو = نَحْنُ اللَّذُوْنَ صَبَحُوْا الصَّبَاحَا  يَوْمَ النٌّحَيْلِ غاَرَةً مِلْحَاحَا “kami datang diwaktu pagi-pagi sekali dihari peperangan di tanah Syam karena menggegerkan musuh juga kami sungguh menjelekkannya”.
Contoh = وَٱلَّـٰتِى يَأۡتِينَ ٱلۡفَـٰحِشَةَ مِن نِّسَآٮِٕڪُمۡ “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji ,..”(Q.S. An-Nisa’: 15)
Contoh = وَٱلَّـٰٓـِٔى يَٮِٕسۡنَ مِنَ ٱلۡمَحِيضِ مِن نِّسَآٮِٕكُمۡ  “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu..” (Q.S. At-Thalaq: 4)

3)    Bentuk Isim Maushũl Mutlaq (Umum)

وَمَنْ وَمَا وَأَلْ تُسَاوِي مَا ذُكِرْ
Adapun Isim Mausũl مَنْ, مَا , dan أَلْ adalah menyamakan hukumnya dengan Isim Mausũl yang telah disebut sebelunnya. (artinya: bisa digunakan untuk Laki-laki, Perempuan, mufrad, mutsanna, atau Jamak).

Contoh = جَاءَ نِيْ مَنْ  قَامَ، وَمَنْ  قَامَتْ،  وَمَنْ  قَامَا،  وَمَنْ  قَامَتَا، وَمَنْ  قَامُوْا، وَمَنْ  قُمْنَ “datang kepadaku seorang (laki-laki) yang berdiri, (perempuan) yang berdiri, (dua orang laki-laki) yang berdiri, (dua orang  perempuan) yang berdiri, mereka (laki-laki) yang berdiri, mereka (perempuan) yang berdiri”[5]

4)    Bentuk Isim Maushũl Dza (ذَا)

وَمِثْلُ مَا ذَا بَعْدَ مَا اسْتِفْهَـامِ ¤ أَوْمَنْ إذَا لَمْ تُلْغَ فِي الْكَلاَمِ
Isim Mausũl ذَا statusnya sama dengan isim Mausũl مَا (dipakai untuk tunggal, dual, jamak, laki-laki dan perempuan), dengan syarat (1) ذَا jatuh sesudah ما Istifham atau من Istifham, (2); ذَا tidak dibatalkan didalam Kalam (maksudnya: ذَا dan ما atau من tersebut, tidak dijadikan satu kata Istifham (kata tanya).

Contoh = مَنْ ذاَ جَاءَكَ - مَاذاَ عِنْدَكَ “siapa orang yang datang kepadamu” – “tidak ada orang yang disampingmu”

5)    Bentuk Shilah Isim Maushũl

وَكُلُّهَــا يَلْـزَمُ بَعَــدَهُ صِلَـهْ ¤ عَلَى ضَمِيْرٍ لاَئِقٍ مُشْتَمِلَهْ
Setiap Isim-Isim Mausũl ditetapkan adanya Shilah (jumlah atau kalimat keterangan) setelahnya, yang mencakupi atas Dhamir yang sesuai (ada Dhamir atau ’Aid yang kembali kepada Isim Mausũl)

Contoh =
 جَاءَ نِيْ الَذِّي ضَرَبْتُهُ - والَذِّانِ ضَرَبْتُهُمَا- الَذِّيْنَ ضَرَبْتُهُمْ “datang kepadaku seorang (laki-laki) yang saya pukul, dan (dua) orang yang saya pukul, dan mereka yang saya pukul”

جَائَتِ الَّتِي ضَرَبْتُهَا- والَّتَانِ ضَرَبْتُهُمَا- واللَّاتِي ضَرَبْتُهُنَّ “datang kepadaku seorang (perempuan) yang saya pukul, dan (dua) orang yang saya pukul, dan mereka yang saya pukul”
وَجُمْلَةٌ أوْ شِبْهُهَا الَّذِي وُصِلْ ¤ بِهِ كَمَنْ عِنْدِي الَّذِي ابْنُهُ كُفِلْ

Shilah yang tersambung oleh Isim Mausũl, biasanya terdiri dari Jumlah atau Shibhul Jumlah (serupa jumlah).
Contoh = عِنْدَكَ جَاءَ نِيْ الَذِّي “datang kepadaku seorang yang ada disampingmu”
Contoh = فِي الدَّرِ جَاءَ نِيْ الَذِّي “datang kepadaku seorang yang didalam rumah”[7]
وَصــفَةٌ صَرِيْحَةٌ صِــلَةُ أَلْ ¤ وَكَوْنُهَا بِمُعْرَبِ الأَفْعَالِ قَلْ

Bentuk Sifat Sharihah (Isim Fai’l atau Isim Maf’ul atau Sifat Musyabbah) merupakan Shilah untuk Isim Mausul ال “Al”, sedangkan Shilah-nya yang berupa Fi’il Mu’rob (Fi’il Mudhori’) jarang adanya.
Contoh isim fa’il = جَاءَ نِيْ الضَّارِبٌ “datang kepadaku orang yang memukul”
Contoh isim maf’ul = جَاءَ نِيَ المَضْرُوبٌ “datang kepadaku orang yang dimukul”
Contoh sifat musyabbihat = جَاءَ نِيْ الحَسَنُ وَجْهُهُ “datang kepadaku orang yang memiliki wajah tampan 

6)    Bentuk Isim Maushũl  Ayyun  (أَيٌّ) dan Shilahnya

أَيُّ كَمَا وَأُعْرِبَتْ مَا لَمْ تُضَفْ ¤ وَصَدْرُ وَصْلِهَا ضَمِيْرٌ انْحَذَفْ
Isim Mausul أيّ “Ayyun” dihukumi seperti Isim Maushũl “Ma” (bisa untuk Mudzakkar, Muannats, Mufrod, Mutsanna juga Jama’) selagi tidak Mudhaf dan Shadar Silah-nya (‘A-id yang menjadi permulaan Shilah) adalah berupa Dhamir yang terbuang.

Contoh = يُعْجِبُنِي اَيٌ قَائِمٌ “manakah orang yang berdiri yang telah mengagumkanku”
Contoh = يُعْجِبُنِي اَيٌهُمْ هُوَ قَائِمٌ “manakah kaum yang telah mengherankanku yang mana dia orang yang berdiri” 
Contoh = يُعْجِبُنِي اَيٌ هُوَ قَائِمٌ “manakah orang yang telah mengherankanku yang mana dia orang yang berdiri”

7)      Bentuk Pembuangan Shadar Shilah (‘Aid Majrur)

كَذَاكَ حَذْفُ مَا بِوَصْفٍ خُفِضَا ¤ كَأَنْتَ قَاضٍ بَعْدَ أَمْـرٍ مِنْ قَضَى
Seperti itu juga (banyak digunakan dan jelas) yaitu pembuangan ‘Aid yang dikhofadkan atau dijarkan oleh kata sifat. Seperti lafadz أَنْتَ قَاضٍ ( takdirannya: أَنْتَ قَاضِيْه ) setelah Fi’il Amarnya lafadz قَضَى.
Contoh = فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ “maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan..”(Q.S. Tha-Hâ: 72)
كَذَا الَّذِي جُرَّ بِمَا الْمَوْصُوْلَ جَرْ ¤ كَمُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ فَهْــوَ بــَــرْ
Demikian juga (sering membuang Aid pada Shilah Maushũl) yaitu Aid yang dijarkan oleh Huruf yang mengejarkan Isim Maushũlnya (dengan ‘Amil yang seragam).
Contoh = مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ (takdirannya: مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ بِهِ) “berjalanlah kamu dengan orang yang mana saya telah bertemu” 

Artikel:
تَحَدَّثَ احْمَد معَ عمِّهِ الَذِّي عادَ من الحَجّ
شَاهدتُ الَذِّي يَجْرِي بينَ المَزَارِعْ
من اركانِ الاسلامِ الزكاتُ التي تُجِبُ على القادرينَ
مكَّة من الاَماكِنِ الّتي تزْدَحِمِ بِالحُجَّاج
انظُرْ الى الحُجَّاج الَّذِّيْنَ يطُوْفُوْنَ بالكعبة
تذكرتُ المسلمِينَ الَّذِّيْنَ جَاهدُوا في سبيل الله
انظُرْ الى المسلمَاتِ اللَّاتِي يطُفْنَ بِالكعبة
يُجِبُّ المُدَرِسُ الطَلِبَاتُ اللَّاتِي يَجْتَهِدْنَ في دُرُسِهِنَّ

Artinya:

Ahmad bebincang-bincang dengan pamannya yang pulang dari Hajji.
Saya melihat sungai yang mengalir diantara tumbuh-tumbuhan.
Termasuk rukun islam adalah Zakat yang mana telah diwajibkan bagiorang yang mampu.
Makkah merupakan sebuah tempat yang mana orang-orang yang Hajji saling berdesak-desakan.
Lihatlah pada orang-orang yang berhajji yang mana mereka sedang Thawaf.
Saya ingat pada orang-orang islam yang mana mereka bersungguh-sungguh dijalan Allah.
Saya melihat pada para muslimin (perempuan) yang mana mereka sedang melakukan Thawaf di Ka’bah.
Seorang pengajar (guru) senang kepada para muridnya (perempuan) yang bersungguh-sungguh didalam pelajarannya.

PENUTUP

KESIMPULAN

Isim Maushũl (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Contoh secara umum penggunaan Isim Maushũl seperti di bawah ini:

1.      Bila Isim Maushũl itu dipakai untuk Muannats (perempuan) maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ. contoh =  جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْه = “datang guru (pr) yang mengajar fiqh itu”.

2.      Bila Isim Maushũl itu digunakan untuk Mutsanna (dual) maka: الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ contoh = جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ  = “datang dua orang guru (lk) yang mengajar fiqh itu”. contoh =جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَان تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ  = “datang dua orang guru (pr) yang mengajar fiqh”.

3.      Bila Isim Maushũl itu dipakai untuk Jamak (banyak)maka: الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: اللاَّتِيْ  contoh =  جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ = “datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu”, Dan contoh =  جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ = “datang guru-guru (pr) yang mengajar fiqh itu”.
الذي
yang
=
Untuk jenis laki-laki tunggal
التي
yang
=
Untuk perempuan tunggal
اللذان
yang
=
Untuk dua laki-laki
اللتان
yang
=
Untuk dua perempuan
الذين
yang
=
Untuk banyak laki-laki
اللاتي
yang
=
Untuk banyak perempuan
من
yang
=
Khusus untuk yang berakal
ما
yang
=
Khusus untuk yang tidak berakal

Contoh-contoh:
غلبت الذى غلبني
Saya telah menang dari orang yang telah pernah mengalahkanku
سفرت التى كانت عندنا
Telah pergi perempuan yang tinggal bersama kami
احبّ الذين علموني
Aku mencintai orang-orang yang telah mengajari aku
أحسن الى من احسن اليك
Berbuat baiklah kamu kepada orang yang berbuat baik kepadamu
لاتأكل مالا تستطيع هضمه
Janganlah engkau makan sesuatu yang engkau tidak bisa  mengunyahnya

Muannats
  جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْه
datang guru (pr) yang mengajar fiqh itu.
Mutsanna
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ 
datang dua orang guru (lk) yang mengajar fiqh itu.

جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَان تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ  
datang dua orang guru (pr) yang mengajar fiqh.
Jamak
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ
datang guru-guru (lk) yang mengajar fiqh itu.

جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ
datang guru-guru (pr) yang mengajar fiqh itu.



DAFTAR PUSTAKA

Husain, Syarafuddin,  Minhatul Malik, Fitarjamati Al-Fiyyah Ibnu Malik Bi Lughah Indonesia Juz I. Karya Toha Putra. Semarang. 1989.
A.P.I. Ma’had. Sulam Tashil: Tarjamati Al-Fiyyah Ibnu Malik, Tegalrejo, Magelang. 1413H.
Taqrirât,  Al-Fiyyah Ibnu Malik, Fi Ilmi An-Nahwu Wa As-Saraf, Lil’alamah Asyaikh Muhammad Bin ‘Abdullah bin Malik Al-Andalusi. Ma’had Al-Islami Lirboyo. Kediri.
Syarah, Ibnu ‘Aqil. Ma’had Islami As-Salafi. Huquq At-Thab’I Mahfudloh.
Hidayat. D. DR. Pelajaran Bahasa Arab; Ta’limu Lughah Al-Arabiyyah, Madrasah Tsanawiyyah. Karya toha Putra. Semarang. 1994.