Rabu, 04 Maret 2015

fi'il mudhore'

fi'il mudhore'

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembagian fi'il menurut waktunya yaitu, fi'il madhi, fi'il mudhori dan fi'il amr.Fi’il Mudhori’ itu sendiri adalah  Kata kerja bentuk sedang atau akan atau kata kerja menunjukkan bentuk kejadian saat berlangsung atau akan berlangsung, di masa pelaku atau setelahnya.
Cuplikan tersebut kami akan kupas dipembahasan berikutnya. Oleh karena itu, perlu mempersiapkan mahasiswanya sedini mungkin guna menghadapi pemahaman tentang fi’il-fi’il dan fi’il mudhore’ tersebut dan agar terciptanya sosok mahasiswa yang cerdik dalam pemahaman materi tentang fi’il mudhore’.
Memang disadari fi’il-fi’il dan fi’il mudhore’ dianggap amat sangat perlusekali dipelajari oleh Mahasiswa. Karena dengan penguasaan dari ilmu-ilmu tersebut diharapkan Mahasiswa mempunyai modal guna mengajarkan disekolah formal atau non formal.
Dalam kesempatan ini makalah kami ingin mengupas tentang pembagian fi’il, pengertian fi’il mudhore’, Ciri-ciri fi’il mudhore’, Fi’il mudhore’ menurut subjeknya, Fi’il mudhore’ menurut susunannya, Jenis-jenis fi’il mudhore’, Jawazimul fi’il mudhore’ dan Contoh tasrif lughowi fi’il mudhore’.

B.  Rumusan Masalah
Uraian latar belakang masalah tersebut, dapat diklasifikasikan bahwa rumusan masalah adalah:
1.         Pembagian fi’il menurut waktunya
2.         Pengertian fi’il mudhore’
3.         Ciri-ciri fi’il mudhore’
4.         Fi’il mudhore’ menurut subjeknya
5.         Fi’il mudhore’ menurut susunannya
6.         Jenis-jenis fi’il mudhore’
7.         Jawazimul fi’il mudhore’
8.         Contoh tasrif lughowi fi’il mudhore’





BAB II
PEMBAHASAN



·                     Fi'il madhi -- Fi'il yang menunjukkan waktu lampau,
contoh : 
قَرَأَ
·                     Fi'il mudhori -- Fi'il yang menunjukkan waktu sekarang atau akan datang,
contoh : 
يَقْرَأ
·                     Fi'il amr -- Fi'il yang menunjukkan tuntutan suatu perbuatan (kata perintah),
contoh: 
اِقْرَأْ

2.    Pengertian fi’il mudhore’
Sesuai kaidah: Arti kata dari Fi'il Mudhori (فعل مضارع) terdiri dari dua kata antara Fi'il (فعل) dan Mudhori (مضارع),  Maka:
      Fi'il (فعل) yaitu: كلمة دلت على معنى فى نفسها واقترنت بزمان وضعا
"Kelimat yang menunjukan arti pada dirinya dan disertai waktu dalam buktinya". diambil dari syarah Ajjurumiyah.
      Fi’il Mudhori’(فعل مضارع) – Kata kerja bentuk sedang atau akan:
“Kata kerja menunjukkan bentuk kejadian saat berlangsung atau akan berlangsung, di masa pelaku atau setelahnya.”
3.    Ciri-ciri fi’il mudhore’
      Ciri-ciri Kalimah Fi’il Mudhari’ adalah dimulai dengan huruf Mudhoro’ah yang empat yaitu أ – ن – ي – ت  disingkat menjadi أَنَيْتُ.
 Huruf Mudhara’ah  (أ)Hamzah dipakai untuk Mutakallim/ pembicara/ orang pertama tunggal/ Aku. contoh أَضْرِبُ
 Huruf Mudhara’ah (ن) Nun dipakai untuk Mutakallim Ma’al Ghair/ pembicara/orang pertama jamak/ Kami. contoh نَضْرِبُ
 Huruf Mudhara’ah  (ي)Ya’ dipakai untuk Ghaib Mudzakkar/ orang ketiga male, tunggal, dual atau jamak/ dia atau mereka. contoh يَضْرِبُ, يَضْرِبَانِ, يَضْرِبُوْنَيَضْرِبْنَ
 Huruf Mudhara’ah  (ت)Ta’ dipakai untuk Mukhatab secara Mutlaq/ orang kedua male atau female, juga dipakai untuk orang ketiga female tunggal dan dual.
contoh تَضْرِبُ تَضْرِبَانِ, تَضْرِبُوْنَ , تَضْرِبِيْنَ, تَضْرِبْنَ



      وَالْفِعْلُ يُعْرَفُ بِقَدْ, وَالسِّينِ وَسَوْفَ وَتَاءِ اَلتَّأْنِيثِ اَلسَّاكِنَةِ
“kelimat fi'il akan diketahui dengan adanya ;qod, sin, saufa dan ta' ciri keperempuan yang dibaca sukun.”
1. Qod = قد artinya: "terkadang”
       Contoh: قَدْ يَقُوْمُ زَيْدٌ = "terkadang jaid yakin sedang berdiri",
2. Sin = س  artinya “sebentar lagi .....”
Contoh: سَيَقُوْلُ الشُّفَهَاءَ = "sebentar lagi akan berkata orang-oang bodoh". Sin ini menunjukan jaman sedang atau waktu yang akan datang
3. Saufa = سوف artinya “agar atau supaya
Contoh: سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ = "agar supaya tahu kamu semua" menunjukan waktu yang akan datang tetapi agak lama hingga dimaknai: "agar/agar supaya/esok lusa dan lanjutanya".

      Dan fi’il mudhore’ dapat dipastikan kejadian itu terjadi saat berlangsung dengan dimasukkannya Lam Taukid dan Ma Nafi. Seperti :  قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ
Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“…Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati…”

      Dan dapat juga fi’il mudhore’ dipastikan kejadian itu terjadi akan berlangsung dengan dimasukkannya  لن, أن, إن  Seperti:
قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي

berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kalitidak sanggup melihat-Ku
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلاًّ مِّن سَعَتِهِ
Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing
masingnya dari limpahan karunia-Nya.






yaitu:
·                     Fi'il ma'lum
Adalah fi'il yang disebutkan pelakunya, cara menentukanya; secara kamus tasrifiyyah.
contoh : يَكْتُبُ
·                     Fi'il majhul
Adalah fi'il yang dihapus pelakunya, cara menentukannya; huruf awal dibaca dlomah  dan sebelum huruf akhir dibaca fathah.
contoh : 
يُكْتَبُ
Kecuali, . huruf mu’tal.


·                     Fi'il tsulasi mujarrod
Adalah fi'il yang berjumlah 3 huruf dengan keseluruhannya adalah huruf asli,
contoh : 
فَتَحَ -- يَفْتَحُ
·                     Fi'il tsulatsi maajid
Adalah fi'il yang berjumlah 3 huruf yang mengalami penambahan baik satu, dua atau tiga huruf,
contoh : 
 اِنْطَلَقَ -- يَنْطَلِقُ
·                     Fi'il ruba'I mujarrod
Adalah fi'il yang berjumlah 4 huruf dengan keseluruhannya adalah huruf asli,
contoh : 
 دَحْرَجَ -- يُدَحْرِجُ
·                     Fi'il ruba'I maajid
Adalah fi'il yang berjumlah 4 huruf yang mengalami penambahan baik satu atau dua huruf,
contoh : 
تَدَحْرَجَ -- يَتَدَحْرَجُ
6.    Jenis-jenis fi'il Mudhore’ yaitu; mu’rob dan mabni.

         mu’rob
Hanya pada fi'il mudhori yang tidak bersambung dengan nun inats (menunjukkan perempuan) dan nun taukid (penegasan), Contoh, يَفْتَحُ
         mabni
Fi'il mudhori yang bersambung dengan nun inats dan nun taukid
Contoh, يَضْرِبْنَ – يَضْرِبَنْ -- يَضْرِبَنَّ




7.    jawazimul fiil mudhore  (جوازم الفعل المضارع)

Huruf-huruf yang menjazamkan fiil mudhore’ ada 4 yaitu : لا  ,   لملما   dan لام الامر  
qaidah:
fiil mudhore di jazam (sukun) apabila jatuh sesudah  لالنهية (لا), لام الامر(ل), لم, لما
1. لا  artinya jangan
Contohnya : تَلْعَبُ كَثِيْرًا يَا عَلِى 
jika fiil mudhore di masuki oleh لا  maka  harakatnya akan berubah  menjadi  

 لَا تَلْعَبُ كَثِيْرًا يَا عَلِى

2.  لم    artinya tidak
Contohnya : يَذْهَبُ وَلِدٌ اِلَى الْمَدْرَسَةُ 
jika fiil mudhore di masuki oleh لم  maka harakatnya akan berubah menjadi  

لَمْ يَذْهَبُ وَلِدٌ اِلَى الْمَدْرَسَةُ   

3.  لما  artinya belumnya : يُحْضَرُ ضَيْفٌ 
fiil mudhore di masuki oleh لما  maka harkatnya akan berubah menjadi

   لَمَّا يُحْضَرُ ضَيْفٌ      

4.  لام الامر  atau  لِ  yang berarti hendaklah

Misalnya يَفْتَحُ  artinya membuka, jika di masuki oleh لِ   maka akan berubah menjadi لِيَفْتَحُ  yang berarti hendaklah membuka.
Contohnya : لِيَفْتَحُ ساَلِمٌ الْبَابُ
Demikian,

لِ  menjadi tiga bagian yaitu:
لام الامر
لام الجحود
لام التعليل
لِيَفْتَحُ
Artinya (hendaklah)
مَا كَانَ لِيَفْتَحُ         
 Artinya (semestinya tidak membuka) 
لِيَفْتَحُ
Artinya (sebab, karna,                                                                    untuk membuka)






8Contoh tasrif lughowi fi'il mudhore’:

يفعل = هوغائب مذكر مفرد                satu orang laki-laki tidak kelihatan.
يفعلان = هماغائبان مذكر إتنان            dua orang laki-laki tidak kelihatan.
يفعلون = هم غائبون مذكر جمع          banyak orang laki-laki tidak kelihatan
تفعل = هى غائبة مأنث مفردة               satu orang perempuan tidak
تفعلان = هما غائبتين مأنث مفردة         dua orang perempuan tidak
يفعلن = هن غائبين مأنث جمع              banyak perempuan tidak kelihatan
تفعل = أنت مخاطب مذكر مفرد                     satu orang laki-laki kelihatan
تفعلان = أنتما مخاطبين مذكر إتنان       dua orang laki-laki kelihatan
تفعلون = أنتم مخاطبين مذكر جمع         banyak laki-laki kelihatan
تفعلين = أنتِ مخاطبة مأنث مفردة                   satu orang perempuan kelihatan
تفعلان = أنتما مخاطبتين مأنث مفردة     dua orang perempuan kelihatan
تفعلن = أنتن مخاطبين مأنث جمع                  banyak perempuan kelihatan
افعل = أنا متكلم وحدة                       saya laki-laki atau perempuan
نفعل =نحن متكلم مع الغير                 kita atau kami laki-laki atau perempuan


















BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan

  Pembagian fi'il menurut waktunya yaitu, fi'il madhi, fi'il mudhori dan fi'il amr.
  Fi’il Mudhori’ itu sendiri adalah  Kata kerja bentuk sedang atau akan atau kata kerja menunjukkan bentuk kejadian saat berlangsung atau akan berlangsung, di masa pelaku atau setelahnya.
  Ciri-ciri Kalimah Fi’il Mudhari’ adalah__dimulai dengan huruf Mudhoro’ah yang empat yaitu أ – ن – ي – ت  disingkat menjadi أَنَيْتُ__kelimat fi'il akan diketahui dengan adanya ;qod, sin, saufa dan ta' ciri keperempuan yang dibaca sukun.”__fi’il mudhore’ dapat dipastikan kejadian itu terjadi saat berlangsung dengan dimasukkannya Lam Taukid dan Ma Nafi__dapat juga fi’il mudhore’ dipastikan kejadian itu terjadi akan berlangsung dengan dimasukkannya  لن, أن, إن
  Pembagian fi'il mudhore’ menurut subjeknya, yaitu: majhul dan maklum
      Fi'il tsulasi mujarrod
      Fi'il tsulatsi maajid
      Fi'il ruba'I mujarrod
      Fi'il ruba'I maajid
  Jenis-jenis fi'il Mudhore’ yaitu; mu’rob dan mabni.
  jawazimul fiil mudhore  (جوازم الفعل المضارع)
Huruf-huruf yang menjazamkan fiil mudhore’ ada 4 yaitu : لا  ,   لملما   danلام الامر  

B.     Saran
Demikianlah sedikit uraian tentang fi’il mudhore’ tersebut. Tentunya tulisan ini masih sangat jauh untuk mengungkap secara detail dan sempurna tentang fi’il-fi’il khususnya fi’il mudhore’. Untuk itu penulis yakin makalah ini masih membutuhkan banyak koreksi dan masukan. Sebagai penutup penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca.


DAFTAR PUSTAKA


Basyir, mushofa. 2002. Durrotussaniayah. Durrotul bahiyyah. Semarang: pustaka al alawiyyah.

Hakim, taufikul. 2002. . Program pemula pembaca kitab Rumus dan Qoidah. Pati: al falah offset.

Fi'il Madhi

Fi'il Madhi

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Bahasa Arab merupakan inti dari ajaran Islam karena ajaran-ajaran Islam sebagian besar memakai bahasa Arab. Bahasa Arab dalam dunia Islam bagaikan air bagi ikan, karena memang salah satu keunggulan bahasa Arab adalah tentang kekhasannya yang paling cocok untuk mengungkapkan tentang hal-hal keagamaan dan ketuhanan karena beberapa keunggulan yang dimiliki oleh bahasa Arab itu sendiri.
            Dalam istilah bahasa Arab ada beberapa unsur penting yang menjadi pokok dalam suatu pembicaraan dengan bahasa Arab, di antara unsur kalimat tersebut yang akan diuraikan di sini adalah kalimah fi’il atau dalam bahasa Indonesia disebut kata kerja. Kalimah fi’il yang digunakan dalam bahasa Arab itu terbagi ke dalam beberapa macam kategori sesuai dengan waktu pelaksanaan pekerjaan tersebut serta sesuai dengan‘Amil (instruksi) yang datang pada kata kerja tersebut, karena ditinjau dari segiharakat, kalimat fi’il ada yang mu’rob (berubah-ubah harakatnya) dan ada yang mabni(tidak dapat diubah harakatnya) yang mana fi’il madhi adalah di antara yang mabnitersebut.

Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari fi’il madhi?
2. Tanda-tanda apakah yang ada pada fi’il madhi?
3. Bagaimana hukum yang berlaku pada fi’il madhi?
4. Bagaimana bentuk fi’il madhi?
5. Bagaimana pola yang ada pada fi’il madhi?

      
     
         BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Fi’il Madhi
Secara terpisah fi’il berarti kata kerja. Sedangkan madhi  berarti yang telah lampau atau lewat. Jadi, apabila digabung fi’il madhi ialah kata kerja yang menunjukkan terjadinya suatu pekerjaan atau peristiwa pada waktu lampau.[1]
B. Tanda-tanda / Ciri-ciri Fi’il Madhi
Tanda-tandanya antara lain tampak pada huruf asli kata kerjanya dan pada umumnya mengandung suara “a” , misalnya كَـتَـبَ (telah menulis), قَــرَأَ (telah membaca) karena dia berharakat fathah. Secara lebih jelasnya di sini akan dikemukakan ciri-ciri dari fi’il madhiyaitu:
1. Bersambung dengan Ta’ fa’il yang berharakat fathah, dhammah, atau kasrahTa’tersebut diletakkan di belakang fi’il dan berfungsi sebagai fa’il (pelaku perbuatan).
((نَصَرْتُ, نَصَرْتُنَّ, نَصَرْتُمَا, نَصَرْتِ, نَصَرْتُمْ, نَصَرْتُمَا, نَصَرْتَ seperti:نَصَرْتُ الْوَلَدَ   (Aku telah menolong seorang anak laki-laki)

2. Diakhiri dengan Ta’ ta’nits  yang mati (Ta’ yang berharakat sukun, untuk menunjukkan bahwa pelaku perbuatan itu adalah muannats
 / perempuan), seperti:
نَصَرَتْ الْوَلَدَ   (Dia satu orang perempuan telah menolong seorang anak laki-laki)

3. Bersambung dengan  Na fa’il (Nun alif, yang menunjukkan fa’ilnya / pelakunya adalah kami / kita), seperti:
نَصَرْنَا الْوَلَدَ   )kami telah menolong seorang anak laki-laki)

4. Didahului dengan قد yang berarti sungguh. Contoh:
قَدْ قَامَةِ الصَّلاَةُ   (Sungguh telah didirikan shalat)

5. Secara bentuk dapat diketahui berdasarkan seluruh wazan fi’il madhi.[2]

C. Hukum Fi’il Madhi
            Di dalam kitab jurumiyyah disebutkan bahwa fi’il madhi difathahkan huruf akhirnya selamanya atau dengan kata lain ia mabni ‘alal fath, contohnya  نَصَرَ, ضَرَبَ, كَرُمَ . Namun fathah yang ada pada akhir fi’il madhi ini adalah fathah lafzhy seperti contoh di atas dan fathah taqdiry (dikira-kirakan) seperti نَهَى, دَعَى, رَمَى  dan dikira-kirakan juga bilamana bertemu dengan dhamir marfu’ (dhamir muttasil marfu’) karena dhamir itu menjadi fa’ilnya, seperti فَعَلتُ, كَتَبْتُ, نَصَرْتُ dan ia dimabnikan sukun. Jika ia bertemu dengan wawu jamak maka ia menjadi mabni dhommah seperti فَعَلوْا .[3]
        Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel di bawah ini:
إذا لم يتصل بأخره شيئ
Ketika huruf akhirnya tidak
disambung dengan sesuatu            مَبْنِيْ عَلَى الْفَتْحِ                  
إذاتصل بألف التثنية
Ketika huruf akhirnya disam-
bung dengan alif tatsniah              
إذاتصل بواو الجمع                                           
Ketika huruf akhirnya disam-                                                         أَقْسَامُ بِنَائُهُ
bung dengan wawu jama’                              مَبْنِيْ عَلَى الضَّمِّ
إذا تصل بتاء الفاعل او بنا لفاعلين
Ketika bersambung dengan           مَبْنِيْ عَلَى السُّكُوْنِ
[4]Ta’ atau نا Fail

D. Bentuk Fi’il Madhi
Fi’il madhi mempunyai 14 bentuk sesuai dengan banyaknya dhamir (pelaku).Dhamir itu berfungsi sebagai fa’il (pelaku). Dengan mengambil contoh kata  كَتَبَmaka terdapat 14 bentuk sebagai berikut:

No
Dhamir
FiilMadhi
Arti
Keterangan
1
هُوَ
كَتَبَ
Dia (lk) telah menulis
Bentuk asli tanpa perubahan
2
هُمَا
كَتَبَـا
Keduanya (lk) telah menulis
 ا pada huruf terakhir
3
هُمْ
كَتَبُـوْاْ
Mereka (lk) telah menulis
ـــُوْا pada huruf terakhir
4
هِـيَ
كَتَبَـتْ
Dia (pr) telah menulis
ـتْ pada huruf terakhir
5
هُمَـا
كَتَبَـتَا
Keduanya (pr) telah menulis
ـتـَا pada huruf terakhir
6
هُنَّ
كَتَبْـنَ
Mereka (pr) telah menulis
ـْــنَ pada huruf terakhir
7
اَنْـتَ
كَتَبْـتَ
Kamu (lk) telah menulis
ـْــتَ pada huruf terakhir
8
اَنْتُمَـا 
كَتَبْتُمـَا
Kalian (lk) telah menulis
ـْــتُمَـا pada huruf terakhir
9
اَنْتُـمْ
كَتَبْتُـمْ
Kalian (lk) telah menulis
ـْــتُمْ pada huruf terakhir
10
اَنْـتِ
كَتَبْـتِ
Kamu (pr) telah menulis
ـْـتِ pada huruf terakhir
11
اَنْتُمَـا
كَتَبْتُمَا
Kalian (pr) telah menulis
ـْتُمَـا pada huruf terakhir
12
انْتُـنَّ
كَتَبْتُـنَّ
Kalian (pr) telah menulis
ـْـتُـنَّ pada huruf terakhir
13
اَنَـا
كَتَبْـتُ
Saya telah menulis
ـْــتُ pada huruf terakhir
14
نَحْنُ
كَتَبْـنَا
Kami, kita telah menulis
+ ــْـنَـا  pada huruf terakhir[5]



E. Pola Fi’il Madhi
1. Fi’il Madhi Tsulatsy, yaitu kata kerja lampau yang terdiri dari tiga huruf. Polanya
فَــعَـلَ
ضَرَبَ, نَصَـرَ, كَـفَـرَ
فَــعِـلَ
فَهِــمَ، شَـهِـدَ، عَـلِـمَ
فَـعُــلَ
حَــرُمَ، كَــرُمَ ،بَـعُـدَ
2. Fi’il Madhi Ruba’i, yaitu kata kerja lampau yang terdiri dari empat huruf.
Antara lain bentuknya yaitu:
1
فَعَّــلَ
نَــزَّلَ, عَـلَّمَ, سَــلَّمَ
2
أ َفْـعَـلَ
أَرْسَــلَ, أَسْــلَمَ, أَنْــزَلَ
3
فَـاعَـلَ
سَــافَرَ, خَـاسَمَ, قَـاتَـلَ
3. Fi’il Madhi Khumasi, yaitu kata kerja lampau yang terdiri dari lima huruf. Polanya antara lain yaitu:
1
اِنْفَـعَــلَ 
اِنْقَـلَبَ, اِنْطَلَــقَ, اِنْقَطَـعَ
2
اِفْتَعَـــلَ 
اِقْتَــرَبَ, اِجْتَمَــعَ, اِجْتَنَـبَ
3
تَفَــعَّـلَ
تَعَلَّــمَ , تَــأَخَّــرَ, تَقَــدَّمَ
4
تَفَــاعَـلَ
تَسَــاقَفَ, تَسَـــاهَـلَ, تَجَـــاهَلَ
4. Fi’il Madhi Sudasi, yaitu kata kerja lampau yang terdiri dari enam huruf. Contoh polanya di antaranya yaitu:
Pola
Contoh
اِسْتَفْعَـــلَ
اِسْتَحْــوَذَ, اِسْتَغْفَــــرَ, اِسْتَخْــرَجَ


Contoh Perubahan Fi’il madhi, rubai, khumasi, dan sudasi[6]
Sudasi
Khumasi
Ruba’i
Dhomir
اِسْتَفْعَـــلَ
تَفــعَّـلَ
اِفْتَعَـــلَ
اِنْفَـعَــلَ
أ َفْـعَـلَ
فَعَّــلَ
اِسْتَغْفَــرَ
تَقَــدَّمَ
اِجْتَمَــعَ
اِنْقَطَـعَ
أَرْسَــلَ
نَــزَّلَ
هُوَ
اِسْتَغْفَــرَتْ
تَقَــدَّمَتْ
اِجْتَمَــعَتْ
اِنْقَطَـعَتْ
أَرْسَــلَتْ
نَــزَّلَتْ
هِيَ
اِسْتَغْفَــرْتَ
تَقَــدَّمْتَ
اِجْتَمَــعْتَ
اِنْقَطَـعْتَ
أَرْسَــلْتَ
نَــزَّلْتَ
اَنْتَ
اِسْتَغْفَــرْتِ
تَقَــدَّمْتِ
اِجْتَمَــعْتِ
اِنْقَطَـعْتِ
أَرْسَــلْتِ
نَــزَّلْتِ
اَنْتِ




BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
1. Fi’il madhi ialah kata kerja yang menunjukkan terjadinya suatu pekerjaan atau peristiwa pada waktu lampau.
2. Ciri dari fi’il madhi adalah diakhiri ta’ ta’nits yang mati, bersambung dengan ta’ fa’il,bersambung dengan نا fa’il, didahului oleh قد , dan secara bentuk dapat diketahui berdasarkan wazan fi’il madhi.
3. Hukum fi’il madhi adalah mabni fathah, baik itu fathah lafzhi atau taqdiry.
4. Fi’il madhi mempunyai 14 bentuk sesuai dengan banyaknya dhamir (pelaku).
5. Pola fi’il madhi ada yang tsulatsi, ruba’i, khumasi, dan sudasi.




DAFTAR PUSTAKA



Anwar, Moch. 2006. Ilmu nahwu terjemahan matan jurumiyyah dan ‘imriithy berikut penjelasannya. Bandung: Sinar Baru Algensindo.


Hamid, M. Abdul Manaf. 2006. Pengantar ilmu shorof ishtilahi-lughowi. Nganjuk: Fathul Mubtadi’in.

KhaironiA. Shohib. 2006. Metode Mustaqilli, cara cepat untuk membaca kitab dan menguasai bahasa arab. Jatibening: WCM Press.